Bagi orang yang belum terlalu banyak hapal doa-doa sesudah solat biasanya mereka punya semacam pocket book yang isinya macam-macam doa solat. Begitu juga dengan gue. Ketika selesai solat supaya lebih afdol solatnya gue memilih membaca buku doa. Saat sedang membaca bagian Doa-doa Pilihan, ada salah satu doa yang membuat gue sangat terenyuh dan mengingatkan gue akan salah satu dari dua guru mengaji gue dulu, Ibu Umi.
Tepatnya ketika gue kelas dua SMA, bokap memutuskan untuk gue belajar ngaji (lagi) dengan memanggil guru ngaji ke rumah. Kebetulan katanya tetangga belakang rumah gue ada ibu-ibu yang pinter ngaji dan emang biasa ngajar ngaji, namanya Ibu Umi. Mulailah kegiatan mengaji gue dengan Ibu Umi saat itu. Seminggu tiga sampe empat kali sehabis Isya Ibu Umi datang ke rumah. Beliau orangnya cukup tinggi, kulit sawo matang, tatapan mata teduh dan cara bicaranya sangat halus walaupun beliau asli Betawi. Hari pertama ketemu Ibu Umi gue awali dengan penampilan gue yang siap mengaji dengan mengenakan celana rumah warna pink yang super pendek. Melihat itu Ibu Umi mukanya kaya kasian gitu sama gue.
“Udah wudhu belom? Kalo belom, wudhu dulu terus ganti celana panjang sama pake kerudungan ya,” Kata Ibu Umi.
Gue walaupun dulu waktu SD pernah ngaji di rumah tetangga bareng anak-anak SD di lingkungan rumah gue agak jleb juga denger begitu. Tapi omongan Ibu Umi langsung gue kerjain. Gak berapa lama gue udah duduk bersebelahan dengan Ibu Umi di lantai depan meja ruang tamu, Al-Qur’an udah di atas meja.
“Mia tau doa sebelum belajar gak?” Tanya Ibu Umi.
“Enggak, Bu. Taunya Al-Fatihah aja setiap mau belajar atau ngapain aja”.
“Ya udah, ini Ibu ajarin kamu apalin terus ditulis ya biar inget terus,” Kata Ibu Umi.
Doanya adalah, Rabbisy rahlii shadrii wayassirlii amri wahlul’uqdatam mil lisaanii yafqahuu qaulii. Doa yang pendek itu adalah doa yang diajarkan Ibu Umi kepada gue untuk dipakai sebelum belajar.
Sekarang udah 8 tahun berlalu sejak pertama kali gue diajar ngaji sama Ibu Umi. Kira-kira 6 bulan Ibu Umi ngajar gue di rumah, setelah itu gue udah sibuk dengan sekolah dan kepusingan menjelang kenaikan kelas 3 yang juga ada pressure UAN. Sesekali gue ketemu beliau di komplek belakang tiap pulang sekolah dulu dan gue selalu cium tangannya tiap ketemu. Yang gue tau, rumah Ibu Umi sangat kecil, letaknya bersebalahan dengan MCK (Mandi Cuci Kakus atau WC umum yang dipakai oleh warga untuk mandi maupun cuci pakaian). Dibandingkan dengan rumah orang tua gue tempat gue tinggal, rumah Ibu Umi memang bisa dibilang sangat minim dan kumuh.
Selesai salat Isya tadi ketika gue sedang baca-baca Doa-Doa Pilihan di buku panduan salat, tiba-tiba gue nemu bacaan yang, kalo kata Ibu Umi, doa sebelum belajar. Seketika itu jug ague inget Ibu Umi, inget juga kenapa gue jarang baca doa itu bahkan saat gue butuh (saat interview dan lain-lain) karena di buku ini judul doa itu adalah Doa Untuk Memohon Pertolongan… Sesal emang dating belakangan, gue merasa bodoh dan congkak kenapa minggu lalu gue ga berdoa apa-apa waktu interview. Apa mungkin itu penyebab gue gak lolos? Semua pertanyaan-pertanyaan itu muncul di kepala. Memang apapun yang kita lakukan selalu melalui ridho Allah SWT, mungkin pekerjaan itu bukan rejeki gue. Sampai pada titik gue berjanji pada diri gue sendiri di hadapan Allah SWT, gue akan membantu Ibu Umi apabila gue mendapat rezeki lebih.
Sampai saat ini yang gue bisa lakukan (belum sampai pada tahan ‘berikan’) hanya mencium tangan beliau setiap kali bertemu dan menanyakan kabar, hanya itu. InsyaAllah Allah memberi jalan untuk gue agar bisa membantu sesama.
Lancarkanlah jalanku menuju pekerjaan yang aku sukai dan inginkan, tentunya melalui ridho-Mu. Amin. Panjangkanlah umur Ibu Umi Ya Allah atau beri aku kesempatan untuk bertemu dengannya dalam keadaan sehat dan sejahtera. Ingin sekali aku membantunya.
(Originally posted on 4 December, 2011, 01.23 AM)
No comments:
Post a Comment