Tuesday, March 9, 2010

Depend on My Mood


Cape banget sebenernya ngedenger tuntutan orang tua ke anak. Kita sebagai anak bisa kesel sampai pengen nangis malahan. Tapi entah kenapa mulut kaya terkunci. Bukan karena ga ada yg bisa diomongin, tapi demi untuk menahan emosi yang sudah gak tahan ingin menembus dinding kesabaran. Semua orang tau, melawan, membentak ataupun membantah orang tua itu tidak baik menurut etika beragama. Dan saya pribadi sebagai anak sama sekali tidak ingin menyakiti perasaan orang tua saya sekecil apapun rasa sakit itu.

Saya cape,
hampir di setiap kesempatan saya berdua dengan ayah saya, beliau selalu menanyakan tentang "mbo' ya kamu cari kegiatan positif, mbak", atau "coba kamu ngelamar-ngelamar kerjaan kalo lagi buka internet". Istigfar istigfar. Bukan saya kalau apapun yang saya lakukan kalau masih dalam proses lalu saya umbar dan bicarakan. Paling banter saya diskusikan kecil-kecilan dengan sahabat atau pacar. Buat saya, selalu ada batasan antara anak dan orang tua. Dan menurut saya lagi, orang tua tidak perlu tahu semua hal tentang anaknya. Cukup yang mudah diterima saja. Hhhh... Ya Allah, gimana caranya supaya ayah saya bisa senang dengan hal apapun mengenai saya, ya Allah?

Sadar sih usaha saya kurang maksimal. But seriously, apapun yang saya kerjakan kalau saya tidak lakukan sepenuh hati atau bahkan karena dorongan orang lain makanya saya kerjakan sesuatu itu, tidak akan pernah maksimal. Boleh koq kalau saya disebut, moody. Because, I am.

I love you, Pap. But sorry I can't prove anything rite now. Please wait till I can give back to you everything you gave me. Promise you, I will. I'll make it happen someday, for you and mom.

Tuesday, March 2, 2010

For The Sake Of Principle

It was came to mind back then, 'why is there a marriage if the options are death do they apart and divorce?'. What is marriage actually? And why are they getting married if they can be separate on their own will, then we know it as a divorce? Crap, this world are getting insane lately. And unfortunately it affected me. Ok, good. NO! Its not good at all, its terrible! I just want to be marry once.

Kalau seperti yang kita tonton di TV di acara infotainment, artis-artis kita cerai rata-rata karena masalah prinsip. Karena mereka beda prinsip lalu mereka gak bisa, at least, coba untuk sabar yang mungkin bisa berbuah baik, ujung-ujungnya cerai. Segampang itukah prinsip bisa merusak pernikahan? Apa bener-bener gak ada solusinya? Mungkin ada, tapi gengsi dan ego setiap manusia itu tinggi sekali. Gengsi yang segitu tinggi pridenya bisa bikin orang mengesampingkan akal sehat. Kasian banget ya orang-orang yang begitu (gak terkecuali saya koq). Soalnya udah pasti banget dan emang udah hukum alamnya, gengsi itu berakhir di penyesalan, apapun alasannya gengsi itu sendiri. Kenapa bisa timbul rasa gengsi dan ego, karena, yah, untuk mempertahankan si prinsip itu.

Prinsip, kalo gak salah definisinya yaitu, kebenaran yang menjadi pokok dasar berpikir dan bertindak. Gak pernah ada kata salah koq kalau untuk urusan prinsip. Karena prinsip itu berbasis kebenaran, kebenaran yang berdasarkan pengalaman individu masing-masing. Tapi prinsip itu bisa jadi boomerang buat kita apabila bertemu dengan individu yang memiliki prinsip yang berbeda. Mudeng ora'? Dodol lo kalo gak ngerti.

Let me get this straight. Affection is not the only thing you need in the relationship. You need A highly level of understanding and patience. I didn't try to say that I've reached that level, but I'm trying here and I will fight it for my own sake. Kenapa? Terdengar egois banget ya? Emang saya egois koq. Everybody are selfish. Such a hypocrite if they aren't. Toh semuanya akan jauh lebih baik kalau dimulai dari diri kita sendiri dulu, baru orang lain. Kalau kitanya aja belum bener, gimana mau benerin orang lain. Sebenernya dengan kita bisa menerima, menampung dan menghargai pendapat orang lain aja itu udah lebih dari cukup. Dan yang paling utama, lupa itu memang anugrah. Jadi bersyukur ajalah kalau kita dikasih lupa terhadap sesuatu. Siapa tau itu baik. Dan memang kalau kepentok soal prinsip dan akhirnya itu uda lewat, entah itu kita bisa ngatasinnya atau selesai karena udah cape, anggap aja gak pernah ada atau lupa.