
Cape banget sebenernya ngedenger tuntutan orang tua ke anak. Kita sebagai anak bisa kesel sampai pengen nangis malahan. Tapi entah kenapa mulut kaya terkunci. Bukan karena ga ada yg bisa diomongin, tapi demi untuk menahan emosi yang sudah gak tahan ingin menembus dinding kesabaran. Semua orang tau, melawan, membentak ataupun membantah orang tua itu tidak baik menurut etika beragama. Dan saya pribadi sebagai anak sama sekali tidak ingin menyakiti perasaan orang tua saya sekecil apapun rasa sakit itu.
Saya cape,
hampir di setiap kesempatan saya berdua dengan ayah saya, beliau selalu menanyakan tentang "mbo' ya kamu cari kegiatan positif, mbak", atau "coba kamu ngelamar-ngelamar kerjaan kalo lagi buka internet". Istigfar istigfar. Bukan saya kalau apapun yang saya lakukan kalau masih dalam proses lalu saya umbar dan bicarakan. Paling banter saya diskusikan kecil-kecilan dengan sahabat atau pacar. Buat saya, selalu ada batasan antara anak dan orang tua. Dan menurut saya lagi, orang tua tidak perlu tahu semua hal tentang anaknya. Cukup yang mudah diterima saja. Hhhh... Ya Allah, gimana caranya supaya ayah saya bisa senang dengan hal apapun mengenai saya, ya Allah?
Sadar sih usaha saya kurang maksimal. But seriously, apapun yang saya kerjakan kalau saya tidak lakukan sepenuh hati atau bahkan karena dorongan orang lain makanya saya kerjakan sesuatu itu, tidak akan pernah maksimal. Boleh koq kalau saya disebut, moody. Because, I am.
I love you, Pap. But sorry I can't prove anything rite now. Please wait till I can give back to you everything you gave me. Promise you, I will. I'll make it happen someday, for you and mom.